antara jarak ruang dan waktu



ketika kehidupan terus berputar menurut alurnya .. ketika sebuah masalah tak dapat lagi di jangkau dengan
menggunakan logika , ketika sebuah keputusan yang entah itu baik atau buruk ..  hanya bisa terdiam.
sejenak berfikir langkah apa yang harus di ambil , tak ingin menyesal menyesal dan tak ingin lagi menyesal sekali pun harus bertahan di atas ketidakpastian ..yang sebenarnya justru lebih menyiksa . bodoh..atau sebuah pengorbanan yang patut dilakukan selama batas wajar , masih merupakan teka-teki besar.
selalu menghargai , sabar dalam menghadapi setiap masalah yang datang silih berganti hilir mudik ..mencoba untuk selalu berbesar hati dan berlapang dada , sungguh itu hal yang cukup bijak :) .
kembali ke jalan Nya , Allah selalu mempunyai rencana rencana yang jauh lebih indah meski sebelum merasakan keindahan tersebut , sering kali di uji dengan cobaan yang terkadang hampir mendekati batas dari pada kemampuan kita , se tegar apa pun kita , tanpa Allah tetap saja akan rapuh .
berdiri , melangkah , dan berjalan di jalan lurus Nya , mengharap Ridho Nya , bahagia se utuhnya bila dekat dengan Nya , berharap Dia yang selalu menjadi petunjuk jalan yang di tempuh..bukankah itu salah satu tujuan Allah agar kita selalu merindukan waktu-waktu bersujud pada Nya.
hal yang paling jauh di dunia adalah masa lalu , dengan cara apa pun manusia takkan pernah bisa kembali ke masa lalu , waktu yang sangat berharga jika manusia bisa berfikir dengan jernih, waktu tak dapat di putar ulang , berusaha tuk tidak melakukan kesalahan pada hari ini adalah kebaikan yang sangat luar biasa .
seringkali ruang dan jarak menjadi pembatas pertemuan , namun jika di fikir lebih dalam ruang bisa dijadikan tempat yang menguatkan dan jarak yang bisa mengokohkan kerinduan , bukan berfikir tuk melupakan .. pemisah yang sebenarnya sangat indah..menyulam benang rindu antara siang dan malam. Waktu takkan pernah menjawab apa yang terjad esok, karena esok adalah rahasia sekaligus menjadi sebuah harapan baru bagi yang mengerti akan arti waktu.


Dirimu


Senja menyapa seolah memberi tahu bahwa aku akan meninggalkan hari ini dan menyambut esok dengan mentari yang mungkin saja lebih cerah dari tadi pagi. Semilir angin menembus jendela meniupkan tirai tipis yang menutup gelap diluar kamar. redup, mungkin bulan tak semampu matahari tuk menerangi dunia ini, atau mungkin memang takdirnya hanya memancarkan cahaya yang sendu, setidaknya masih bisa melihat tanah dan rumput atau bebatuan ketika seseorang barjalan dalam gelap dan pekatnya malam. malam yang bagiku bisa disebut sebagai perjalanan menuju esok.atau jika bulan semampu matahari, apakah aku akan mengenal malam yang berarti tak ada esok. apakah esok aku akan mendapatkan sebuah hadiah terindah yang pernah ada dalam hidupku? esok yang juga berarti sebuah harapan, dan kemarin berubah nama menjadi masa lalu. Dirimu, dirimulah harapan itu, aku bertemu dengan mu, rahasia Tuhan yang  tak pernah aku tau dan seorang pun tahu mungkin juga termasuk dirimu, yang jelas aku bahagia.Dirimu menyeka airmata, Dirimu menghapus sedih yang kemarin temani hari-hariku. Dirimu ibarat mentari yang selalu dijanjikan oleh senja kemarin.Mentari yang menghapus embun pagi di hijaunya dedaunan, sama seperti sedih ku yang kau hapus dengan cahayamu. apakah aku dapat menyulam hari agar cerita ku tetap sama hingga akhir bersamamu, bukan dengan yang lain. aku tak mau lagi bertemu dengan mentari-mentari lainnya, tapi bukankah mentari hanya ada satu? ya maka dari itu aku berharap kau yang menjadi cahaya dalam hidupku. karena dirimu, aku selalu mempunyai harapan baru. aku selalu membisikkan rindu saat kau tak disampingku, saat aku melalui gelap dan terang dengan bintang dan bulan sebagai hiasan, aku selalu mengatakan aku mencintaimu meski kata-kata itu tak keluar langsung, aku rasa kau mendengarnya dari bisikan angin yang menyentuh lembut wajahmu disana. dan ketika esok tiba lagi, aku masih ingin dan akan selalu menulis cerita yang sama, yaitu dirimu. Serta selalu ku berdoa agar Tuhan selalu bersama dengan mu disetiap langkah kakimu. Dirimulah yang selalu dan senantiasa ku harap, kurindu, kucinta, Alfitransyah.