surat ayah dan pengorbanannya

SURAT AYAH
#cerpenku by. wiwik andriani

hari-hari yang kami lewati tak bisa dikatakan begitu indah..
namun kebahagiaan masih dapat terpancar dari raut wajah ayah..lelah dan penat ayah hilang seketika saat tawa dan teriakan dari si kecil memanggil nama nya.
setiap pagi ayah harus bertarung melawan dinginnya udara pagi..
tetesan embun mengibaratkan tetesan keringat dan tetesan air mata kepedihan hidup yang harus tetap ia jalani..
sinar matahari pagi menemani langkah kakinya , lambaian ilalang seolah melepas kepergiannya mencari sesuap nasi .
ayah..sungguh besar jasamu..
mungkinkah aku mampu tuk membalas semua jasa dan waktu yang tlah kau relakan demi anak dan keluargamu..
ayah pergi sebelum matahari menampakkan sinarnya , dan pulang ketika sang rembulan muncul.
kulit yang semakin hari semakin keriput tak pernah ia hiraukan , entah seberapa lelah ia memikul beban ini.
meski kami jarang bercanda dengan ayah , tertawa sepuasnya dengan ayah , serumah tapi kami jarang melihatnya .
ayah pulang ketika kami lelap tertidur diatas tikar anyaman dari daun nipah yang tumbuh di belakang rumah , lau ayah pergi sebelum kami bangun..
kerasnya batu-batu terjal yang dilalui ayah , sekeras tekad ayah untuk melanjutkan hidup .
aku ingin melihat wajah ayah , sehari... saja..
tapi itu tak kan mampu ayah lakukan ..
ayah lebih menghargai waktunya untuk bekerja..


hingga aku tunbuh dewasa dan mulai mnegerti arti kehidupan..
aku turut mengikuti langkah kaki ayah pergi..
tak ku biarakan ia melewati lambaian hamparan ilalang sendirian..
langkah kecilku mulai melambat , dan aku sadar , aku sedikit mengganggu ketenangan ayah..
ia tak sanggup melihat ku ikut memikul beban kehidupan yang dijalanin nya..
beberapa kali ayah membujukku untuk tidak diam saja dirumah..
aku menjawabnya dengan senyuman..




entah aku mimpi apa malam itu..
seperti berat langkah ku untuk bangun..
seperti tak mampu dan tak sanggup tuk melarang ayah pergi..
yahh..dan semua terjadi begitu cepat..
ayah pergi meninggalkan kami ..
ia tak sanggup melihat kami hidup selalu dalam kesengsaraan..
ia merelakan dirinya untuk menjual organ tubuhnya pada orang lain..
hanya sepucuk surat yang kami dapat.
tak tertahan air mata ini..
jerit tangis memecah suasana hening siang itu..
ayah..mengapa dalam diam kau berfikir bodoh.
tak kasihan kah kau pada anakmu .. yang jarang melihat n bersama sosokmu.. malah kini kau pergi untuk selamanya..
ayah menulis dan menyuruh ku untuk membuka salah satu bongkahan batu di pertengahan hamparan ilalang..
disitulah ia menyimpan uang untuk kami..
ia selalu menaruh uang logam itu didalam lobang batu..
kemudian ia melanjutkan perjalannannya dengan tangan n bekal kosong..

0 komentar:

Posting Komentar