Ayah, aku menyayangimu.
Kini putri kecilmu telah tumbuh dewasa.
Dulu, samar yang ku ingat, kau merantau jauh untuk menghidupiku.
Dulu, aku kau jadikan putri terbaik yang pernah ada.
Tak peduli beban berat yang kau bawa, kau hanya ingin aku Bahagia bersama mainan baru yang kau bawa jauh dari kota yang Tak pernah aku tau hingga saat ini.
Keringatmu jatuh menetes dan kering di tanah jalanan yang kau lalui.
Jauh, begitu jauh jalan yang kau lalui, ketika kau haus, kau ambil air yang mengalir dari gunung dengan tanganmu.
Semua kau ceritakan saat aku mulai mengerti arti kehidupan.
Gambaran perjuanganmu dulu.
Namun aku cukup beruntung, mempunyai ayah yang bisa aku peluk dan aku lihat kapan saja aku mau.
Kau dan Ibu merintis usaha, yang membuatku bahagia tak kekurangan kasih sayangmu.
Badan mu yang dulu gagah besar, terlebih perut gendutmu, kulitmu yang putih dan wajah yang segar, kini perlahan ku saksikan mulai berubah.
Hanya doa disetiap malam dalam sujudku berdoa, agar aku mampu membahagiakanmu, agar aku mampu membalas semua jasa mu meski aku tau aku takkan mampu.
Ayah, aku menyayangimu.
Marahmu, laranganmu, nasehatmu, khawatirmu, semata karena ingin menjaga ku.
Ku harap aku mampu berikan yang terbaik untukmu. I love You Ayah.
Dari putri kecilmu yang kini telah dewasa dan akan selalu menyayangimu.
